Petrus Kanisius Ojong

Salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia
Petrus Kanisius Ojong atau Auwjong Peng Koen (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia, 25 Juli 1920 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 31 Mei 1980 pada umur 59 tahun) adalah salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia (bersama Jakob Oetama). Ojong menjadi jurnalis sejak awal usia 30-an. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki. PK Ojong meninggal tahun 1980.

Riwayat
Lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Auw Jong Peng Koen. Ayahnya, Auw Jong Pauw, sejak dini giat membisikkan kata hemat, disiplin, dan tekun kepadanya. Auw Jong Pauw awalnya petani di Pulau Quemoy (kini wilayah Taiwan) yang kemudian merantau ke Sumatra Barat. Kelak Auw Jong Pauw menjadi juragan tembakau di Payakumbuh, dan menghidupi keluarga besar 11 anak dari dua istri, istri pertama Auw Jong Pauw meninggal setelah melahirkan anak ke-7. Peng Koen anak sulung dari istri kedua. Saat Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh tak sampai sepuluh, salah satunya milik ayahnya.
Auw Jong Peng Koen juga berdisiplin tinggi dan serius, seperti dia tunjukkan saat bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar khusus warga Tionghoa) Payakumbuh. Di masa ini, ia berkenalan dengan ajaran agama Katolik. Beberapa waktu kemudian, dia masuk Katolik dan mendapat nama baptis Andreas. Peng Koen kemudian sempat pindah ke HCS Padang, lalu melanjutkan ke Hollandsche Chineesche Kweekschool.
Di Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru), ia gemar membaca koran dan majalah yang dilanggani perkumpulan penghuni asrama. Di sini Auwjong Peng Koen mulai belajar menelaah cara penulisan dan penyajian gagasan. Di sekolah guru setingkat SLTA ini, Peng Koen terpilih sebagai ketua perkumpulan siswa. Ia bertugas menyediakan bahan bacaan buat anggota serta menyelenggarakan pesta malam Tahun Baru Imlek dan piknik akhir tahun. Di malam Imlek, tradisinya digelar acara polonaise, sandiwara, menyanyi, dan makan malam istimewa. Tapi Peng Koen cuma ngobrol dan ngobrol. Konon, ia agak kaku jika berhadapan dengan lawan jenis. Seorang ibu, bekas teman sekelasnya dan kini pengusaha toko manisan di Cianjur, Oei Yin Hwa, masih ingat betul, di sekolah Peng Koen dijuluki verstrooide professor alias profesor pikun. Kelak kebiasaan hemat membuatnya hati-hati dan teliti. Disiplin dan tekun membentuk dia jadi orang yang lurus dan serius. Bahkan setelah menjadi bos Kompas – Gramedia, Ojong tak berubah. "Uang kembalian Rp 25,- pun mesti dikembalikan kepada Papi," bilang putri bungsunya, Mariani. Namun, ia tak "pelit" pada orang atau badan sosial yang benar-benar membutuhkan, bahkan rela menyumbang sampai puluhan juta dolar. Tapi, jangan minta duit untuk pesta kawin, atau perayaan Natal sekalipun. "Kalau tidak punya uang, jangan bikin pesta," kilahnya selalu. Semasa kuliah hukum, Oei Tjoe Tat, rekan kuliah yang kemudian menjadi menteri negara di akhir masa pemerintahan Soekarno, berkomentar, "Ia sering terlalu serius menanggapi segala hal. Kalau melucu, leluconnya kering."
Mengenai nama keluarganya, nama Auwjong juga punya sejarah lucu. Lain dengan ayahnya yang menulis "Auw Jong" terpisah, Auw Jong Peng Koen justru menuliskan "Auwjong" versi sambung. Bulan Agustus 1937, saat memperkenalkan diri di depan teman-temannya di HCK, Auwjong Peng Koen menyebut namanya dengan aksen Sumbar yang kental. Sampai ada teman sekelasnya mengira Peng Koen berkata ouwe jongen alias "perjaka tua".

Buku
Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, yang dibesut Helen Ishwara dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia (2001) terasa bak tuntunan bagi wartawan dalam membangun media cetak dengan baik dan benar. Pengalamannya, berlatar belakang intrik politik Orde Lama dan Orde Baru, begitu rinci.